Katanya Kawan, Tapi Kok...


Sorry ya kalau hari ini saya mau nyampah. Curhat. Udah gak tahan sebenarnya. Curhatin di blog biar semua orang bisa ambil pelajaran.

First of all, saya mau bilang, saya ini bukan orang makmur. Walaupun kerja di luar negeri dengan gaji yang lumayan, tapi saya punya banyak tanggung jawab dengan uang yang saya cari.

'Tapi kamu kan punya bisnis travel, Jas?'

Memang betul. Gak salah lagi. Dan tau gak kalau Addict Tours itu juga baru dibangun pelan-pelan. Modalnya di puter-puter. Biaya tour bulan ini dipakai dari deposit tour bulan yang akan datang, sebelum kastemer melunaskan full paymentnya. Gitu-gitu aja seterusnya.

Dan lagian untung dari setiap paket perjalanan juga bukan jutaan. Tapi cuma seuprit yang bahkan gak bisa dijadiin talangan booking hotel atau apalah untuk trip yang lain lagi. Walau cuma seciput, kami tetap bersyukur karena jujur kami ngejalanin bisnis ini bukan untuk kaya, tapi untuk menyalurkan hobi.

Aamiinin deh. Semoga bisnisnya lancar dan besar.

Baca : Tips dan Trik Jalan-Jalan Murah di Siem Reap, Kamboja

Nah, awal tahun kemarin ada travel agent yang minta kerjasama dengan Addict Travel & Tours. Saya dan Mbak Didi oke-oke aja. Sekalian promosiin travel kami kan ya. Nah, travel agent ini adalah teman saya sendiri.

Udah ada beberapa trip dari dia yang di offer ke kami. Tapi selalu pembayaran biayanya gak sesuai due date. Kan kami pusing juga mau ambil duit dari mana ini untuk biaya operasional. Addict Tours sama sekali gak pegang duit (karena modal kita ya dari puter-puter duit tadi).

Yang bikin kesel tuh trip yang akan datang ini. Masih ada sisa payment sekitar 10 Jutaan. Tapi doi udah pakai duit itu untuk keperluan yang entah lah. Beneran mati akal deh mau gimana, nyari duit dimana untuk trip yang tinggal dua hari lagi.

Jelas, ngandelin gaji saya dulu juga bukan jalan keluar. Toh gitu gajian, saya harus terus transfer kesana sini termasuk bayar kosan dan cicilan motor. Gak punya saya duit segede itu untuk nalangin trip ini.


Jangan sementang-mentang kerjasama dengan kawan, kamu bisa bikin dia sesuka hati kamu. Itu gak amanah lho kategorinya. Kalau saya jahat, bisa aja besok saya tinggalin kastemer nya dipinggir jalan. Lha, mau gimana biaya operasionalnya macet.

Tapi saya dan Mbak Didi gak segitunya juga. Kami tetap jaga komitmen kami untuk melayani kastemer dengan baik. Make your adventures awesome itu bukan cuma sekedar slogan, tapi juga komitmen yang akan terus kami pegang. So, kami memang harus jaga kepercayaan dan kepuasan kastemer.

Baca : Shopping Menyambut Lebaran di Bandung

Baca juga : Honeymoon Bareng Addict Travel & Tours

Jadi kawan tuh harusnya ya bantu dong bisnis temen sendiri. Nyari duit itu gak gampang. Kalau emang mendesak perlu duit, mbok ya cerita dulu ke kita. Minta izin duitnya boleh dipakai sebentar ato gak.

Saya pribadi, kalau beli barang dari temen yang jualan juga jarang minta kurang (kecuali harganya memang mahal gak masuk akal). Bantu temen nyari duit. Mensupport.

Kan kalau kejadiannya kayak gini, kami juga akan susah percaya ke si temen. Bisa jadi kami gak mau kerjasama lagi. Padahal niat kami mau kerjasama dulu nya kan juga untuk bantu dia nyari duit.

Aduh, lelah banget Hayati.. Gak berhenti doa supaya bisa trip ini lancar jaya walau Mbak-Mbak CEO nya lagi pusing kepala. Ah, Allah pasti ada cara tersendiri untuk membantu kan ya. Asal niatan hati kita benar, lurus dan tulus.

Pesan moralnya adalah dalam berbisnis itu kudu menanamkan sifat-sifat Rasulullah. Salah satunya ya amanah. Amanah itu tanggung jawab yang besar lho. Bahkan Rasulullah bersabda

"Empat hal jika dia ada dalam dirimu, engkau tidak merugi walaupun kehilangan dunia, yaoitu menjaga amanah, berkata jujur, berakhlaq yang mulia dan menjaga makanan (dari yang haram)." (HR. Ahmad)
Amanah itu juga salah satu etika berbisnis dalam islam.

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu'anhu bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda, "Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat (nanti)"
Dengan menjaga amanah, komunikasi antar partner kerja dan juga kastemer akan lebih mesra, sama-sama merasa menghargai dan dihargai, serta terciptanya kepuasan berbisnis.

Saya dan Mbak Didi juga selalu merefleksi diri apakah kita sudah amanah atau belum. Maka disetiap trip selesai, kami akan memninta maaf atas sama kastemer atas segala kekurangan dalam pelayanan. Mana tau ada part-part tertentu yang membuat kastemer gak puas hati, kan kami jadi gak enak hati juga. Kami mah cuma manusia yang selalu bersusaha jadi lebih baik dan belajar dari kesalahan setiap trip.

P.s: Semoga ini bukan termasuk 'ngomongin orang dibelakang'. Toh, kami juga udah ngomong langsung ke dia menceritakan kondisi kami. Tapi pas tau duitnya udah terpakai, hancur hatiku berkeping-keping. :(

Semoga bisa mengambil pelajaran dari curhatan sampah saya. ^^



Hang Pasaipa, Hingaq-Hingaq Datang Rumah Kami

Source: https://lh3.googleusercontent.com/
Ada yang tanya itu maksud nya apa? Bahasa planet mana? Sebagian yang udah tau artinya apa, mungkin bertanya-tanya, ini Jasmi lagi kenapa? Kesurupan? Ngajak ribut?

Wait, tenang sodara-sodara. Biar saya jelaskan ya. 

First, itu adalah bahasa Malaysia logat utara. Wilayah Penang sampai ke Kedah itu adalah bagian utara Malaysia. Artinya 'Kamu kenapa, ribut-ribut datang kerumah saya?'. Kalau orang yang baru pertama kali dengar orang utara Malaysia ngomong, pasti akan sport jantung. Memang agak kasar, tapi sebenarnya bukan sedang memaki. 

Kayak orang Batak di Indonesia. Ngomongnya agak keras, tapi sebenarnya bukan lagi marah kok. 

Pernah dulu Mbak Didi hampir nangis ke saya pas baru telponan sama pihak transportasi di Medan. Biasa lah deal-dealan harga dengan agen travel gitu kan. Mbak Didi bilang, 'Kok gitu sih mereka ngomong nya, kayak kita gak serius aja mau kerjasama nya. Kasar banget gitu. Jadi males ih'. 

Source: http://assets.kompasiana.com/items/
Lha wajar Mbak Didi berpikiran gitu. Secara doi kan orang Malaysia. Jadi kurang paham sama karakter orang dari suku-suku yang ada di Indonesia. Terus dia lanjutin, 'Dulu pas deal dengan orang Bandung (orang Sunda) enak banget mereka ngomong nya. Halus. Sopan'.

Puas mendengar komplain nya Mbak Didi, saya merasa bertanggung jawab untuk menjelaskan yang bahwa memang karakter orang Medan (kebanyakan bersuku Batak) ya gitu. Intonasi mereka berbicara memang keras, tapi bukan berarti mereka sedang memaki-maki lawan bicara nya. Saya jelaskan lagi, tipikal orang Bandung (kebanyakan orang Sunda) memang lembut tata bicaranya. 

Source: http://3.bp.blogspot.com/
Sama halnya dengan orang Aceh (kampung saya tercinta). Nada bicara mereka juga keras dan suaranya juga agak kuat. Sulit membedakan, ini lagi ngomong atau lagi teriak. hahaha.. 

Itu dia, pentingnya mengetahui budaya dan bahasa suatu kaum. Agar kenapa? Agar kita gak misunderstanding. Kan gak lucu, bisa jadi berantem gara-gara kita gak ngerti karakter dan budaya suatu kaum.

Nah, gak usah panjang lebar lah ya saya jelasin teori 'intercultural person' a.k.a orang yang bisa berbaur dalam semua kalangan atau budaya. Bisa 6 SKS gak akan habis ngejelasinnya. 

Saya cuma mau bilang, agar bisa berbaur dengan benar dalam suatu komunitas yang berbeda background dengan kita, kita harus tau dulu budayanya, bahasanya, kebiasaannya, adat istiadatnya, pantang larangnya, dll sebagainya. Yah itu tadi, biar kita gak salah faham.

Contoh ya, pas pertama kali datang ke Thailand saya bingung kok orang pada 'Wai' (gerakan seperti salam sembah) waktu ngasih salam. Sedangkan saya jadi 'sangak' a.k.a bengong karena saya malah menjulurkan tangan untuk hand shaking, tapi tidak bersambut. Sekayak cinta bertepuk sebelah tangan. hhihi
Gini lah ilustrasi saat saya salah paham dulu
Itu terjadi karena saya bodor, gak cari tau dulu kebiasaan orang di Thailand kayak gimana. 

Kejadian kedua, waktu ngantor, saya heran semua karyawan pasti akan menyembah patung raja sebelum masuk ke ruangan. Saya jadi bertanya-tanya, 'apa saya juga harus nyembah?' Kan bahasa kerennya 'When in Rome, do as Romans'. Terus kan saya balik lagi ke aqidah saya. Gak usah ikut-ikutan lah kalau soal aqidah. Runyam nanti. 

Second, apa hubungannya sama logat utara Malaysia? Ini dia, salah paham saya yang kesekian. Karena saya gak tau cara bicara orang utara Malaysia kayak gitu. Memang saya gak terlibat interaksi langsung dengan orang utara ini, tapi saya nonton film serial Malaysia yang latar belakangnya di Kodiang Kedah (bagian utara Malaysia).

Source: http://2.bp.blogspot.com/
Saya jantungan waktu pertama kali nonton film Mak Cun bergenre komedi, tapi setting nya bener-bener daily life banget. Kosa kata yang digunakan juga khas dan gak pernah saya tau sebelumnya. 

Review tentang fim Mak Cun ini udah pernah saya tulis di blog lama saya Aku, Hidup dan Bintang Gemintang. (Baca: Mak Cun: Film Komedi Melayu Sarat Makna). Saya khatam nonton film Mak Cun. 

Saya nanya ke Mbak Didi, 'ini film kok marah-marah terus orang nya dari awal sampai akhir'. Kadang saya juga pause (karena nonton nya via laptop) bagian tertentu kalau saya gak faham maksudnya. 

Terus Mbak Didi juga punya tanggung jawab moral untuk meluruskan, bahwa intonasi bicara orang Kedah memang kebanyakan seperti itu (dalam kehidupan sehari-hari). Tentu mereka akan menyetel intonasi (jadi lebih halus dan sopan) kalau berbicara dengan orang yang baru dikenal. Begitu katanya. 

Nah, pas nonton di scene yang ada dialog 'Hang pasaipa, hingaq-hingaq datang rumah kami?', saya juga pause. Dan nanya lagi ke Mbak Didi, itu maksudnya apa. Dia jelaskan lah dengan arti yang udah saya sebutin di atas. 


Well, kesimpulanya adalah kita harus mempelajari budaya suatu kaum agar kita bisa menghargai dan mengapresiasi baik persamaan maupun perbedaan dengan budaya kita sendiri. Komunikasi tanpa penghargaan terhadap budaya suatu kaum dapat menjadikan komunikasi itu jadi aneh dan bisa jadi salah paham. Nah lho!

Sekarang seorang Jasmi sudah bisa diajak ngomong pake logat Kedah dan Kelantan. Eits, bahasa Nogoghi Negeri Sembilan Malaysia pun Jasmi dah power. 

:: nok tunggu depa oghang-oghang Kedah tu komen macam mano pulop?

P.s: abaikan judul artikel yang gak konek sama isi. wkwkwkwk

Iklan. Numpang lewat ya. Yuk jalan-jalan bareng kita

THE AMERZING BLOGLIST | Me + Living Abroad


What word does first come in my mind when I found a blog written in English? AMAZING. I love reading simple stories or diaries in English. When I gotta know blog Amerzing of course I adore it so much and try to read all its post. 

First of all, I would like to say that, hey, you know what, I am very glad to find a blog with the 'almost' same name with me. The Amazing Me Vs Amerzing, lets be amazing in togetherness. Awesome, huh!! Certainly. 

Second, hmmm.. I an not confident actually writing in English. I am an English teacher yet have a very bad even worse writing skill. Well, maybe I am quite good in academic writing such as writing research paper or journal in English. it uses formal language of course. So, when you read this post, you'll be a lil bit bored since-yeah maybe-the language style is too formal. #tears..

Before I cup cap cup cap about the most amazing thing that has happened in my life, let me give a short review about Amerzing. Honestly, I just got to know this blog. Its template is nice with the combination of white and gold (or maybe yellow) color. Its header is eyes catching since it's so simple (without pictures or other ornaments). 

What I love the most is its post are written in English with a joke inserted inside at a certain part. It's fun to read Amerzing posts in English (of course it's unlikely my 'boring' English) lol. 

Nah, now let me share to you the most amazing thing in my life. I am a last child of my lovely parents. I have 2 brothers and 2 sisters (which is one of my brother was passed away during Tsunami disaster 2004 in Aceh). Yups, I am an Indonesian who has a lot of Malaysian friends. Most of them are bloggers, and Amer is one of them (Amer, are we friend? Yes or No?). 

P.s: You see. My English is like a secondary student's English, huh?

Let me make it short. Since my parents were both passed away during my childhood time, I got lack of guidance and attention from the family which is they have their own life. You know, actually, it was hard for me to run on my life. In most parts of my life, I felt like wanted to give up. 

Why? Because I used to do things by myself. I thought that I could do everything by myself. I ain't getting help from  no one. Thus, when I feel I couldn't finish it, I just wanted to stop doing it. 

It was a totally big mistake. I have friends who can always support me when I need motivation, who can help when I need help. The very important thing is I have ALLAH. Then, I realize that Allah will not leave me in the dark after giving me a life. 

I changed my perspective that I need help in my life. Because I used to do things by myself doesn't mean that I don't need help, do I? Praise be unto Him, that He send me amazing friends day by day. 

I know great bloggers both from Indonesia and Malaysia. They are very helpful. They assist me and share me their insight toward blogging world. What an amazing gift from God that I received. You guys are so amazing. Thank you.

Not only that, I know a lot of intelligent and -professor to be- friends during my study (both bachelor and master degree) who always encourage me to finish my study. They said, 'Jasmi, what makes you such a great girl is when you finish what you have already started'. 

Yeah, finally I finished my master degree in UPI Bandung in English Education (with not so good GPA, but I am proud of myself). My friends came on my graduation day. Yups, they are my family in the 'far away' place from my hometown. Of course they should come to congratulate me. 

Finally, my simple and boring life turns to much fun and adventurous life after meeting a young lady named Didi. She is a Malaysian who makes me so Malay nowadays. She invited me to join a trip with her. At another change, she invited me again. And again, and again, till both of us become what so called-addictive traveling-BFF. 

Gallery:

Me and Didi at matta Fair 2017 in Kuala Lumpur

Me and Didi at Siem Reap Cambodia

Me and Didi in Bangkok Thailand

Me and Didi had so much fun at Sunway Lagoon Malaysia

Me and Didi enjoyed the Bogenia Garden in bandung Indonesia

Temple in Nakhon Si Thammarat Thailand

Still in Nakhon Si Thammarat: Central Plaza

Pattaya Beach Koh Lipe, Thailand

Here we were, Singapore

Met new friends from Jakarta: Dunia Fantasi

Tadom Hill Resort, Malaysia

Borobudur Temple, Yogyakarta

We have a share dream to make a travel business. We just did it. Together we established a travel agency named Addict Travel & Tours. You can read about it here

Never come in my mind up to own a travel till I met this lady. What a great achievement for me. 

Then, what is the relationship this story with the title 'living abroad'? There's no significance relationship, but Didi actually was the person who helped me to got a job abroad (outside Indonesia). Yeah, here I am, in Thailand (still around Asia but it's far away from Indonesia if we walk there, lol). 

Living in Thailand-or exactly seeking for experience in other countries-is one of my resolutions. Yeah, I faced a lot of difficulties living here since I dunno their language. It's hard to communicate. Yet, it's much fun to experience it, believe me. Getting involve with the society, sharing different cultures, trying to understand each other, is the most priceless parts that I will not forget it.

Finally, big thanks to Didi for what you have done to me. Thanks for Amer who invited me to join this segment. And thanks also for You, My Lord, who always show me the good way to come closer to you through amazing friends. Thanks so much for not leaving me alone and letting me down. You always have your special way to encourage me to go on my life. 

My motto: 'Allah tidak akan menelantarkan hambanya setelah mengantarnya sejauh ini' 

P.s.s: Phuuuft, finally, I finished this writing. Avoid my grammatical error, and please forget that I am an English teacher.

_THE END_