Hati-Hati, Komentar Negatif di Facebook Salah Satu Bentuk Cyberbullying

Monday, February 13, 2017 Jasmi Bakri 10 Comments

Dok. www.worldpulse.com

Kali ini saya akan ngebahas soal bullying yang kerap terjadi disekitar kita, tapi gak pernah kita sadari. Saya udah lama banget pengen nulis tentang bullying ini. Selama ini yang kita tau cuma bullying secara fisik yang sering beredar video anak-anak ABG yang lagi adu jotos. Ngeri banget. Saya gak pernah kuat nonton video kayak gituan. 

Ngomong-ngomong soal bullying, ternyata ada juga yang disebut psikologi bullying, verbal bullying dan cyberbullying. Dan hati-hati ternyata komentar negatif di facebook itu salah satu bentuk cyberbullying lho. Atau bisa juga dikategorikan ke psikologi atau verbal bullying untuk kasus yang lebih berat. Walau saya bukan psikolog, tapi saya peduli dengan efek yang ditimbulkan dari bullying jenis ini. Bahaya sekali.

Oke, sebelum kita lanjut membahas 4 jenis bullying diatas (fisik, psikologi, verbal, dan cyber), saya pengen curhat dulu. Kenapa tiba-tiba saya nulis tentang psikologi kayak gini? Karena saya gerah banget baca komentar-komentar negatif distatus saya. Sekayak memojokkan dan mau menjatuhkan.

Sadar gak sih, sekarang ini kita gak cuma hidup di zaman yang sesak dengan polusi udara dan polusi suara, tapi kita juga hidup di zaman polusi kebencian. Hatred sounds dimana-mana. Saling menggunjing, saling menjelekkan, saling membuka aib. Ya Allah, ngeri banget hidup kayak gini. Itu yang suka nyindir-nyindir dan menghina kok betah sih hidup kayak gitu?

Bener kata orang-orang, namanya juga hidup, Tuhan yang nentuin, kita yang jalanin, tetangga yang komentarin. Disekitar kita sekarang banyak terjadi, yang gak sama pendapat dengan seseorang, kita dibenci. Yang kita sukses dikit, ada orang yang iri. Terus yang iri suka ngomentar dengan nada negatif walau ujung-ujungnya ngomong 'ah, bercanda doang kok. Sensitif banget sih. Wah, main nya gak jauh nih.' 

Hell to the O, Hello... Bercanda gak usah sampai kelewatan gitu, nyindir-nyindir dan menjatuhkan orang lain. Kalau sekali dua kali sih si korban masih bisa terima. Kalau udah berkali-kali, bisa naik pitam juga.

Dari sini saya belajar satu hal. 
Bahwa urusan bullying ini tidak bisa dijadikan bahan candaan.
Dok. aspanational.files.wordpress.com

Sebagai seorang penguna sosial media aktif, saya sedikit tau etika penggunaannya. Sebaiknya sosial media memang digunakan untuk hal-hal positif. Saya suka share yang menurut saya bermanfaat gak cuma buat diri saya tapi juga buat orang lain. Kadang suka khilaf juga share link dan posting status yang gak ada faedah. Setelah sadar, saya terus hapus postingannya. Dan itu berulang terus siklusnya. Labil ya saya. Terus saya harus bangga gitu? hihihi

Saya juga gerah liat orang pada share tapi gak tau sebenarnya esensi dari berita yang dia share apa. Kadang ada juga tuh orang yang baca judul aja, terus share. Bahaya ini bahaya. Udah kronis nih level nya. Sebelum share link atau posting sesuatu harusnya cek dan ricek dulu. Terus nanya ke diri sendiri, 'kalau saya share postingan ini berapa banyak orang yang akan baca, berapa besar manaafat dan mudharatnya bagi orang banyak.' Intinya, jadilah pengguna sosial media yang cerdas. (eeeaaakkk!!!)

Sama halnya juga dengan komentar status atau postingan orang lain. Cobalah untuk tidak menebar kebencian saat berkomentar. Gak usah pake alesan ah just kidding kok. Bercanda gak usah kelewatan kayak gitu. Tau gak sih, komentar negatif bisa jadi menjatuhkan semangat seseorang walau cuma niat awalnya joking doang. 

Ini pengalaman pribadi saya. Banyak banget orang-orang entah itu kawan dekat atau kawan yang hanya sekedar kenal yang berkomentar negatif disetiap postingan saya. Saya jadi gerah. Gak bisa selo. Mbok nya komentar positif dikit napa. Bukan karna saya haus pujian ya. Gak usah dipuji juga gak apa-apa. Saya ya apa adanya. 

Biarin aja dikata, 'ah kamu gak bisa dibecandain. Kurang jauh ah main ya, kurang tinggi ah manjat pohonnya.' Sekarepmu lah. Tapi itu bisa jadi efek gak baik lho buat empunya status. Kadang banyak yg komentar difoto, 'iiiihhh kok tambah gendut sih', bla bla bla. Hei, perempuan mana yang seneng dibilang gendut? Saya sadar diri sih gemuk. Tapi gak usah dikomentarin juga. Mending kamu scoll aja cepat-cepat kebawah postingan saya. So, kamu gak kegatelan komentarin foto/postingan saya. Nah kan, jadi naik tensi gini. Maafkan saya yang khilaf ini ya sodara-sodara sekalian. 

Plis jangan udahan dulu. Jangan tutup dulu browsernya. Baca dulu sampai kelar. Syukur-syukur kalau ninggalin komentar ^^. 

Saya bukan haus pujian, saya faham betul hadist Rasulullah SAW bahwa 'memuji teman sendiri itu seperti memenggal kepalanya.'  Gak usah muji. Saya gak butuh. Tapi tau gak sih dengan komentar negatif dan merendahkan gitu saya jadi mikir, apa saya segitu gemuknya, apa saya segitu rendahnya? Saya bisa stres lho. Dan stres itu bisa buat saya makin gemuk. wkwkwkwk.

Udah segitu aja dulu curhat saya tentang apa yang saya alami. Well, sekarang mari kita bicara serius. 


Dok. www.cdn2.hubspot.net

Kenali 4 jenis bullying


Ada 4 bentuk bullying:

1. Physical bullying, contohnya memukul, meninju, menendang, dll yang melibatkan kekerasan fisik.

2. Psychological bullying, contohnya menyebar gosip, mengancam, atau bercanda dengan nada mengejek.

3. Verbal bullying, contohnya menghina, menyindir, meneriaki dengan kasar, memberi julukan negatif untuk orang lain. 

4. Cyberbullying, contohnya ya seperti melakukan penipuan melalui sosial media, menghina dan melontarkan komentar negatif di sosial media, dll.

Nah, komentar negatif di facebook atau sosial media lainnya bisa digolongkan cyberbullying yang didalamnya juga mengandung psikologi bullying dan verbal bullying. Ngeri banget ya, dalam satu tindakan aja mengcover 3 jenis bullying sekaligus. 

Terus apa dampak dari cyberbullying?

Salah satu dampak dari cyberbullying adalah membunuh karakter orang lain. Membuat orang lain mempunyai self-confidence yang lebih rendah. Lebih parahnya lagi cyberbullying ini membuat seseorang tertekan dan bahkan dalam beberapa kasus berat membuat orang sampai commit to suicide a.k.a bunuh diri.

Kalau untuk kasus saya pribadi mah masih tahap gerah dan geram a.k.a kzl. Gak akan sampe bunuh diri kelleus. Cuma diejek gitu doang. Na'udzubillah.

Terus, dampak cyberbullying ini juga si korban cenderung memiliki self-esteem yang rendah. Dan itu juga berdampak pada menurunnya prestasi akademik, prilaku kriminal, kesehatan yang memburuk, dan emosi yang tidak stabil.

Sayangnya, banyak sekali diantara kita tidak sadar diri yang bahwa dia sebenarnya adalah pelaku cyberbullying. Mereka tidak sadar telah menyakiti hati orang lain dengan komentar negatif dan mereka kadang suka membentengi diri dengan klise-klise seperti yang disebut tadi, 'sensitif banget sih, bercanda doang kok', 'ah, gitu aja marah, kurang piknik kamu'.

Nah, sebagai pengguna sosial media yang aktif, kita harus pintar menempatkan diri. Kita harus faham kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Kita juga harus bisa mengendalikan otak, hati dan jari agar sinkron dan sama-sama kompak untuk gak mikir yang negatif, gak ngomong yang negatif, dan gak ngetik kata-kata negatif. Penting sekali mengontrol diri untuk berbicara dan berkomentar seperlunya.

Jadi, sebelum ngomong dan komentar itu mikir dulu, yang saya omongin dan komentarin ini berfaedah gak? Atau malah meninggalkan sayatan bagi si empunya postingan. Nah, kalau kira-kira gak ada faedahnya, ya gak usah. Cukup bagi like atau reaction aja. Udah gitu scroll aja kebawah.


Gitchuuuuu..

Semoga kita semua jadi pengguna sosial media yang cerdas dan bijak ya. Mari refleksi diri jangan-jangan kita pun pernah menjadi cyber bullier. ^^

Thanks for dropping by.

Untuk diskusi lebih lanjut, tinggalkan komentar ya.

10 comments:

  1. Wah, panjang penjelasannya mbak. Memang bullying ini sangat berdampak bagi orang yang mengalaminya. Tapi tidak selalu korban bullying prestasinya anjlok, kadang malah naik bahkan bisa gratis naiknya. Namun dibalik itu dia memiliki self esteem yang rendah sehingga mengejar prestasi yang tinggi. Salam kenal mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju. Dalam beberapa kasus memang ada yg meningkat prestasinya. Ada yanh lebih sukses karena didorong rasa ingin menunjukkan kepada dunia bahwa dia gak yang kayak di omongin orang lain.

      Tapi setiap orang punya self-healing power yang beda2.

      Salam kenal juga. Nanti saya mampir ke blog nya ya. :)

      Delete
  2. Benar! Saya amat bersetuju dengan statement diatas. Lebih banyak buruknya dari baik apabila memperkatakan tentang orang lain di media sosial.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tau tak pe.. daripada sakitkan hati orang lain, lebih baik kita diam je kan. hehe

      Delete
  3. Haaa...
    Mungkin kalo ditambah dg pembahasan dari ilmu bahasa bisa jadi beberapa sudut pandang lain. Kalo bahasan ini juga ditambah lagi dengan ilmu agama, jadi lebih berwarna.

    Semuanya nanti akan membawa ke muara yang indah. Kalau sudah di sana, mungkin bisa di level yg mana ya? ๐Ÿ˜Š

    I appreciate it!
    Good to hear your persfective on this issue ๐Ÿ˜‰

    Aku sih masih mewarnai sebatas di ilmu bahasa (Alhamdulillah kelas Pa Iwa dan Pa Amin memberi sudut pandang baru yg lebih berwarna). Warnai lagi pake ilmu agama? Masih belajarr dan terus belajar...

    Keep going on, Jas.
    Experience is the best teacher overall. ๐Ÿ˜‰

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku belum terlalu menguasai ilmu bahasa dan ilmu agama. Jadi masih blm berani ngomong. Harus bljr bnyk lagi kan ya. Biar bahasannya warna warni. Hehe

      Btw, aku boleh diskusi ke alma gak soal ilmu bahasa ini. Secara kan anak pak iwa. Hehehe

      Anyway, thanks alma utk masukannya.. Happy!!๐Ÿ˜Š

      Delete
  4. Wah teguran buat saya nie. Saya sering juga ngolok orang. Hikz... Insaf ah insaf :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama.. Saya juga pernah jadi bagian mengolok2 orang. Sekarang sebisa mungkin dihindari. Tobat saya.. hehe

      Delete
  5. untuk sosmed akun pribadi, alhamdulillah teman2 sekitar jarang cyberbully. tapi lain lagi lingkungan real life ada beberapa yang verbal bullying, dikatain ga bisa bercanda lah, main kurang jauh lah. samapai skrang masih bingung jawanya apa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Disenyumin aja, mbak.. Kalo cyberbullying kan suka dibaca banyak orang. Contohnya ya komen facebook. Kadang saya gak respon orang2 yang komen negatif. hehe

      Delete