Assalamualaikum Aceh, Aku Pulang

Thursday, April 13, 2017 Jasmi Bakri 24 Comments


Pulang bagi perantau adalah kebahagiaan. Kebahagiaan yang tidak bisa ditukar dengan apapun benda. Kebahagiaan yang beda yang hanya perantau saja yang rasa. Pulang bagi perantau adalah terapi yang tepat. Karena pulang bukan hanya soal ada waktu atau tidak, tapi juga tentang menyempatkan untuk pulang atau tidak. Sampai disini saya berhenti menulis. Bagaimana lagi saya harus mendeskripsikan 'Pulang'?

Ya, saya pulang. Tidak ada yang tau saya akan pulang. Saya tidak beritahu siapapun bahkan keluarga juga tidak. Durhaka kah saya? Saya rasa tidak. Justru ini memberikan kebahagiaan lebih dan kejutan yang akan dikenang karena tetiba sesosok yang mereka rindukan hadir didepan pintu rumah sambil menggendong Dueter 40L yang mulai memudar. 

Tidak ada oleh-oleh, tidak ada buah tangan, hanya bawa beberapa helai baju saja, dan tentu bawa segunung rindu yang melanda. Rindu yang sudah ku bongkar pelan-pelan melalui tulisan-tulisan. Tapi tabungan rindu saya sama sekali tidak berkurang. 'Ah, penting apa oleh-oleh bagi mereka', pikir ku. Mendapati aku pulang saja mereka sudah girang. Saya. Saya lah yang mereka mau sebagai souvenir untuk mereka.



Sehari sebelum keberangkatan, keluarga menelpon mengecek keadaan saya. Dusta saat saya bilang bahwa saya baik-baik saja. Pagi buta, pada hari itu, saya masuk UGD karena sesak nafas. Dokter bilang saya terlalu lelah bekerja. Ah, dokter sok tau. Kata saya, saya lelah menanggung rindu, itu saja. Semoga Rabb mengampuni saya karena berbohong. Saya hanya tidak ingin mereka khawatir kaena akhir-akhir ini saya jadi langganan datang ke UGD. 


Saya tetap bekerja hari itu walau datang terlambat. Beruntung tidak ada sistem potong gaji di tempat saya bekerja bagi karyawan yang terlambat. Tapi mungkin akan dapat surat peringatan jika melulu datang telat. Dan hari itu juga saya mendapati ajuan cuti saya belum di acc. 

Tuhan, jangan sampai saya tidak jadi pulang. Saya sudah bersemangat sekali untuk mengetuk pintu dan berniat mengucap salam saat turun dari pesawat nanti. Assalamualaikum Aceh, aku pulang. Saya sudah latihan berkali-kali bagaimana saya harus mengucap salam, dengan nada seperti apa? Dengan nada manja kah? Sedikit keras kah? Atau seperti Nobita di film Doraemon? Aku pulaaaaannnggg... 

Tuhan, jadikan rencana saya ini bagian dari rencana terbaikMu. Begitu kira-kira doa saya waktu itu. 

Saya tidak keberatan melakukan 2 hari perjalanan untuk sampai di kampung halaman. 2 kali naik minibus, sekali naik kereta api, dilanjutkan naik bus ke bandara, kemudian naik pesawat, itu adalah momen yang membuat hati saya makin berdebar.

Debaran yang saya rasakan sekayak jumpa mantan pacar, atau perasaan jumpa pacar yang LDR-an. Ah, entah lah. Saya tidak cukup pandai mengibaratkannya dengan perasaan cinta. 

Sangking bahagianya saya, minibus yang penuh sesak sampai saya tidak bisa bernafas pun, terasa luas bagi saya. Bau badan dari bapak paruh baya disamping saya pun sama sekali tidak mengganggu pernafasan saya. Karena apa? Karena bahagia. 

Itu lah hakikatnya bahagia. Saat hatimu penuh kebahagiaan, maka dugaan-dugaan disekelilingmu, tidak akan jadi masalah.

Setidaknya, saat itu, saya tidak ada waktu untuk merungut. Hidup saya bahkan terlalu indah untuk selalu dibawa mengeluh. Saya hanya melayan rasa bahagia saya. 

Saya rasa ini adalah penerbangan terlama saya. Padahal Kuala Lumpur - Aceh hanya berdurasi 1 jam 30 menit saja. Menjelang landing adalah detik-detik sakral yang mendebarkan. Pipi saya seakan ditarik kencang ke kiri dan ke kanan membentuk sebuah senyum lebar di bibir saya. Akhirnya..

'Akan kunikmati setiap detik yang kuhabiskan disini. Akan kupenuhkan available space di memori otakku dengan hal-hal indah selama berada disini. Akan ku abadikan setiap kejadian dalam kamera handphone saya yang ala kadar saja', janji saya dalam hati.

Saat turun dari pesawat, saya dapat menghirup aroma khas yang sudah lama tidak kuhidu. Entah aroma apa, jangan tanya saya. Aroma penuh kesegaran dan islami yang memberi ketenangan. Ah, inilah Serambi Mekkah, rumah para aulia. 

Saat tulisan ini dimuat naik, saya belum tiba dirumah. Saya baru saja melewati imigrasi Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, Indonesia. Tulisan ini saya cicil selama perjalanan menujunya. 

'Assalamualaikum Aceh, aku pulang', aku mengucapnya dengan nada penuh kelegaan. 

24 comments:

  1. Welcome home jasmi.. Krue.... seumangat.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih kak farah.. Finally, mudik juga. Alhamdulillah

      Delete
  2. semoga selamat sampai tanahair dengan selamat ye ^^

    ReplyDelete
  3. selamat datang mbaa~ aku terharu baca postingan ini. belom pernah merantau jadi penasaran ^^

    suika-lovers.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perasaan pas mudik tu kek roller coaster. Dag dig dug berdebar jantungku.. Hahaha

      Delete
  4. Waaaah senangnya bisa pulang,, saya juga pengen loh ke aceh,, cuman dengar2 cerita disana itu penuh warna,, indah banget tatanan kehidupannya.., penasaran..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagian orang takut ke aceh karna syariat islam nya. Padahal gak ngeri2 amat kok. Emang sepanjang jalan di aceh berseliweran algojo bawa cambuk apa?
      Kan gak.. Huhu.. Orang aceh nampak sangar, tapi baik dan ramah.

      Delete
  5. welcome to Indonesia mbak...
    diksinya bagus :)

    pulang ke rumah adalah hal yg sangat istimewa bagi perantau. meski hanya berapa hari, yakinlah suasana rumah akan membuatmu enggan untuk beranjak kembali ke perantauan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ih, kamu kok tau sih perasaan aku. Kamu anak buahnya mama loren ya?? Hahahaha

      Delete
  6. Welcome to home Mba :)
    Rasanya senang pake banget bisa pulang, bertemu orang-orang tersayang ya, Mba. Semoga sehat selalu dan terus berbagi dan menginspirasi lewat blog ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih andi.. sangking senengnya balik kampung, komen2 di blog jadi terabaikan. hehehe

      Delete
  7. welcome home mbakke.....

    dulu aja waktu zaman kuliah senang banget kalau buat kejutan gtu pas plang.. jadi tau2 muncul di depan rumah aja smpe orang rumah kaget.. hehehehe
    nasib perantauan yah mba... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. tos dulu kita bay.. sesekali bikin kejutan gitu bagus untuk olahraga jantung. hahaha

      Delete
  8. halo kak jasmi. saleum meuturi. wah, kawoe lom u nanggroe ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saleum meuturi syit Liza.. Senang that meutemeng woe u gampong walau siat sagai.. hehe

      Delete
  9. Padahal KL-Aceh gak jauh2 amat ya mbak, jauhan Aceh-Jakarta tapi kayaknya gimana gitu soalnya udah beda negara sih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. bisa pulang kapung rasanya bahagia sekali ya./. hihihi

      Delete
  10. Iya Mbak, terkadang merantau membuat kita terlelap. Jangankan yang jauh kayak Mbak, aku yang cuma Surabaya - Gresik aja belum tentu sering pulang. :"))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Puk Puk mbak Hilda.. hihihi.. Harus sempat2in pulang ya kita.. Tos dulu sesama anak rantau. ^^

      Delete
  11. seronok kan udah pulang ke pangkuan famili...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seronok sangat sampai tak sempat nak layan blog. hahaha

      Delete
  12. Dapat rasakan kegembiraan & kebahagiaan dapat pulang ke kampung halaman :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya kan Mai.. Bahagia sangat.. Rasa tak nak merantau lagi. haha

      Delete