Ramadhan Log #2: What Was I Doing? Finishing The Alchemist?

Tuesday, June 06, 2017 Jasmi Bakri 0 Comments

Assalamu'alaikum Jasmi Lovers. Jumpa lagi di Ramadhan Log hari kedua yang ditulis di hari kesebelas. Apa-apaan ini. Udah basi. Ah, gak apa-apa lah ya. Saya cuma mau melengkapi log untuk 30 hari. hahaha..

Ketauan kan, liat judulnya aja udah tau yang kalau si penulis ini lupa dia ngapain aja hari Minggu itu. Gak tau kenapa akhir-akhir ini kok gampang banget lupanya ya. Hmmm, gak mungkin karna faktor umur, eykeu kan masih muda. wkwkwkwk.. Gak sadar diri amat ya.

Kayaknya hari Ramadhan #2 saya cuma mager dan stand by dirumah aja deh. Istirahat gitu. Kan udah capek-capek ngikut seminar Ramadhan #1 nya.

Baca disini deh cerita saya hari pertama puasa biar nyambung. Baca juga cerita saya kenapa jadi jarang nulis disini.

Saya udah pernah baca sih The Alchemist versi Bahasa Indonesia. Terus ketemu yang versi English waktu jalan-jalan ke toko buku Popular di Wangsa Walk Mall Malaysia. Harganya lumayan mahal juga untuk ukuran buku lama. Tapi karena penasaran gaya bahasa tulisan dalam Bahasa Inggris, ya saya beli aja.

Ternyata asik juga bacanya. Ringan banget bahasanya. Dibandingkan dengan novel The Abundance of Katherines yang ditulis John Green, saya lebih prefer baca novelnya Paulo Coelho. Tulisan John Green agak berat untuk saya. Jarang baca novel berbahasa Inggris sih yak. hahaha..

Sumber: Google
The Alchemist ini novel yang udah lama banget kata Wikipedia. First published nya aja tahun 1988. Saya aja belum lahir tahun segitu. Novel ini aslinya ditulis dalam bahasa Portugis dan diterjemahkan kedalam 70 bahasa di dunia. Novel ini juga masuk dalam kategori International Bestseller Phenomenon.

Konon katanya novel ini sangat berpengaruh pada perubahan hidup pembacanya. Novel ini mengulas hal yang terjadi sehari-hari. Dilema yang dialami banyak orang, meraih mimpi, percintaan, dan membuat keputusan.

varian cover The Alchemist. Sumber: alitarimbawa.files.wordpress.com
Novel ini menceritakan seorang pengembala domba bernama Santiago dari Andalusia yang meninggalkan kotanya untuk meraih mimpinya. Perjalanan ini dilakukan karena sebelumnya dia ketemu sama 'Mama Lauren' a.k.a Fortune Teller a.k.a ahli nujum untuk mencari tau arti mimpinya. (Saya lupa mimpinya seperti apa).

Sebenarnya ahli nujum ini kesulitan menafsirkan mimpi si pengembala. Hanya saja, dia mengatakan bahwa si pengembala akan menemukan harta karun di Piramid Mesir. Awalnya dia ragu-ragu, tapi akhirnya mantap untuk mengembara setelah ketemu seorang kakek tua yang mengaku sebagai Raja Salem menyemangatinya. Kata Sang Raja, 'when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it'. Kata-kata inilah yang dipegang si pengembala selama perjalanannya.

Varian cover The Alchemist. Sumber: Google
Dalam kembaraannya juga, dia bertemu seorang gadis Arab bernama Fatima dan jatuh cinta. Si pengembala gak mau melanjutkan perjalanannya, karna pengen kawin sama Fatima. Tapi justru Fatima bilang, 'Kembalilah padaku saat kamu sudah mendapatkan harta karunmu', gitu kira-kira. Si pengembala jadi dilema. Satu sisi dia gak mau melepaskan Fatima, disisi lain dia juga ada mimpi besar yang harus dikejar. Fatima juga bilang, "Orang dicintai karena dia memang dicintai. Tak perlu alasan untuk mencintai."

Dari scene yang ini bisa diambil satu pelajaran bahwa
Untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, harus ada sesuatu yang dikorbankan. 
Disini, si pengembala mengorbankan Fatima demi harta karunnya.

Dari cerita ini juga saya tau kalau di daerah oasis gurun pasir, lelaki gak boleh bertanya atau berbicara dengan perempuan yang memakai jubah hitam dan memakai cadar. Mereka itu sudah menikah. Nih, poin multiculture nya ada disini. Ooo ternyata gitu. Saya baru tau.

Dalam perjalanannya, si pengembala bertemu dengan seorang Englishman yang menceritakan tujuannya datang ke Mesir adalah untuk mencari dan menjadi The Alchemist. Kemudian mereka melakukan perjalanan bersama.

Nah, sebenarnya apa sih Alchemist itu? Penjelasannya silakan baca disini.


Yet, overall novel ini adalah novel spiritual yang bagus sekali untuk dibaca. Kata-katanya powerful banget. Diantaranya yang saya ingat:

The secret of life, though, is to fall seven times and to get up eight times. 
Ini penyemangat buat kita saat jatuh, harus bangkit lagi. Jangan mudah menyerah.

There is only one way to learn. It's through action. 
Nah lho, talk less do more. Kayak kata pepatah 'Ceritakan padaku, maka aku akan lupa. Ajarkan aku, mungkin aku mengingatnya. Libatkanlah aku, maka aku akan belajar'.

Why should you listen to your heart? Because you will never be able to escape from it. 
Jadi, dengarlah kata hati. Dan jangan lupa minta petunjuk Ilahi.

Sampai jumpa di Ramadhan Log #3.

0 comments: