4 Hal yang Aku Tinggalkan di Tahun 2019


4 Hal yang Kutinggalkan di Tahun 2019
Don't strive to be better that others; strive to be better than your best self. _Inspirational Boost_

Udah masuk tahun 2020, bahkan minggu pertama Januari udah berlalu dan minggu kedua akan menemui akhir. Masih punya banyak waktu untuk memperbaiki kesalahan atau mengejar target yang di-set tahun lalu di tahun 2020 ini. Ah, aku harap tulisan ini belum basi pembahasannya dan masih relevan untuk dibaca. 

Sebenarnya Desember kemarin udah mau nulis tentang ini. Cuma ya kan masih ngejar artikel yang lain dulu. Jadilah ini diabaikan. Aduh, di awal tahun ini masih kerasa juga belum bisa bagi waktu antara kerjaan pokok dan ngeblog. Udah sampe situ aja curhatnya.

Memasuki dekade baru dalam hidup jujur aja bikin aku deg-degan. Seakan belum habis menuntaskan PR tahun lalu, eh sekarang udah masuk tahun baru lagi aja. Masih belum habis merefleksi diri apa yang udah dilakukan di tahun 2019. But so far, aku meninggalkan 2019 dengan ceria. Yup, ada sebagian hal yang terjadi yang buat aku bahagia, sebagian yang lain buatku bahagia karena sudah bisa mengakhirinya. 

Ngomong-ngomong soal sifat atau kebiasaan buruk, aku pengen banget tinggalin 4 hal ini di belakang dan gak mau aku bawa jalan bareng tahun 2020 ini. Gak asik kalau jalan sama mereka tuh. Ntar, keulang lagi kejadian yang sama ya kan. 

Nah, ini dia 4 hal yang mau aku buang jauh-jauh biar 2020 ini jadi tahun yang istimewa buat aku karena aku yakin tanpa mereka aku akan jadi lebih baik. 

1. Peduli dengan omongan orang


Hell to the ow. Hellow. Talk to my hands. Digituin aja orang-orang yang masih aja komentarin hidup aku nanti. Pasti masih ada uh parasit-parasit yang bakal nanya kapan nikah, kapan punya anak, kapan ini? Kapan itu? Kapan mati?

Tahun lalu aku kebanyakan dengar kata orang ini dan itu yang buat ku stres sendiri dan gak bisa apresiasi diri sendiri. Terima aja dibandingin sama orang-orang yang udah duluan melesat di atas aku. Padahal aku pribadi ngerti dengan slogan "Everyone has their own timeline", aku salah satu penganut paham ini. Tapi ada aja di suatu waktu aku merasa terpuruk kalau dibanding-bandingkan sama orang lain. 

Nah, mulai hari ini, bahkan mulai hari pertama tahun baru, aku sudah mulai belajar mengabaikan omongan negatif nitizen yang bikin jatuh. Aku coba untuk be in positive circle yang memang sefrekuensi sama aku. Aku cari komunitas yang bisa bikin aku makin on fire dalam self-development dan yang bikin aku sibuk sampai gak punya waktu mikirin komentar orang.

2. Mempertahankan racun


Aku udah gak keberatan untuk cut-off orang-orang yang racun dari hidup aku. Setahun memperthanakan mantan yang kadang datang lagi kemudian pergi lagi, dasar ghosting gak jelas itu tentu udah meracuni hati dan pikiran aku. Inilah salah satu hal yang aku syukuri bisa kutinggalkan di tahun lalu.

Aku ingat salah satu teman blogger aku yang aku segani banget, sebut saja namanya Monica Anggen (diperankan oleh model) pernah ngirim satu quote yang dia tulis dijurnalnya :
Delete, unfollow, unfriend, block,erase, and disconnect from anyone and anything that robs you of your peace, love, and happiness. Not just on social media, but in real life too. You don't need to be around people who don't see and appreciate your value @mindset_therapy
Dari sini aku kembali tersadarkan pentingnya uantuk membuang jauh-jauh racun yang akan ngefek ke inner peace kita. Hey, bukankah kita berkewajiban untuk memberi keamanan dan kenyamanan pada diri sendiri? Jadi, aku berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan itu untuk diri sendiri demi aku yang lebih baik.

Bayangkan aja kalau kita sendiri tidak merasa bahagia, atau bahkan sering menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu melepaskan, saat itu lah kita sudah jadi musuh untuk diri sendiri. Nah, musuh ini juga harus di cut off. Berteman baiklah dengan diri sendiri.

Di kasus lain, aku berani meninggalkan kerjaan lamaku karena aku rasa banyak toxic di dalamnya. Bahkan aku merasa aku yang toxic karena aku "merasa ditindas oleh keadaan" aku jadi gak maksimal lagi kerjanya. Saat aku udah gak bisa berkontribusi lebih, aku memilih mundur dan biarkan perusahaan cari orang lain yang lebih bagus performa kerjanya.

3. Kepala yang bising




KEPLINCEK DAN HAMPIR TERPELESET Entah wujud kata keplincek itu dalam KBBI atau gak. Yang pasti keplincek ini pernah dirasain sebagian orang. Entah krn kurang keseimbangan atau karna kurang fokus. Sama halnya dalam hidup. Siapa yang gak pernah ngerasain 2 hal yang sukses bikin sport jantung ini? Kadang merasa apa yang kita jalanin 'not good enough' dan pengen hidup seperti orang lain: berlomba-lomba jadi orang lain, terseok-seok mengejar apa yg dikejar orang lain. Tanpa peduli keseimbangan fisik dan emosi, cita2 dan kemampuan diri, akhirnya kita keplincek dan mungkin kepeleset. Dan itu sakit. Saat inilah kita kembali sadar untuk kembali menyeimbangi, fokus pada kelebihan diri. Gak apa2. Keplincek itu sesekali bagus, sebagai pengingat diri. Asal jangan keseringan aja. Kalau ntar nyungsep jadi makin parah. Jadi, pesan moralnya adalah, moralnya pesan di mana? Pengen beli satu kodi untuk stok awal tahun nanti. #lifequotes #wednesdayvibes #workvibes #workingwoman #journeyoflife
A post shared by Jasmi Aldebaran Bakri (@jasmi_bakri) on


Maksudnya gimana, mbak? Mungkin ada sebagian orang yang bertanya-tanya. Jadi gini, di dalam kepalaku ini, ada banyak hal yang ingin dieksekusi. Isi kepalaku tuh random, kadang aku juga mikirnya acak. Lagi mikir habis ini mau ngerjain apa lagi yang kira-kira selesai dalam waktu singkat, eh tiba-tiba jump mikirin 'ini nahkoda hidupku mau diarahkan ke mana?'

Contoh lain, aku lagi mikirin enak mana makan bakso atau nasi goreng ya untuk makan malam nanti, malah tiba-tiba mikir 'dalam 3 tahun lagi, karir aku jadi kayak gimana ya?'. Dan pikiran-pikiran acak ini kadang bikin aku gak fokus sama satu hal. Dalam kasus ini, aku bahkan lupa tadi siang aku pengen makan bakso atau nasi goreng, malah makan sate untuk makan malam. Kan kacau! Mana lebih mahal pulak tuh sate. ^^


Yang ingin diwujudkan dalam kepala ku tuh banyak banget. Karir pengen gini, akhir tahun pengen jalan ke situ, mau dong blog aku jadi kayak gitu, eh bikin bisnis ini kayaknya asik untuk side income, ah pengen beli hp ini dan laptop itu, eh kamera ini juga bagus, kayaknya aku butuh. Banyak banget sis maunya. Kadang kesel sendiri sama otak yang berisik.

Nah, tahun ini aku udah berani nyuruh otakku diam. Diam bukan berarti aku gak peduli ya. Aku belajar fokus satu-satu dulu. Kalau tiba-tiba jump lagi pikirannya, aku berusaha untuk tetap fokus sama yang sebelumnya aku pikirkan. Aku belajar langsung eksekusi, jadi gak numpuk banyak PR aku dan kepalaku juga jadi lebih ringan kerjaannya.

Misalnya, aku pengen banget 2020 ini naikin rangking blog. Aku langsung coba benahi blog aku pelan-pelan sampai aku gak ngerti lagi harus gimana, aku minta tolong sama orang yang udah mahir. Aku coba selesaikan satu-satu apa yang aku mau. Pada saat yang sama, kalau aku harus postpone dulu kerjaannya, aku akan mulai stepping ke kerjaan yang lainnya. Kerjaan yang butuh proses lama, akan aku cicil dikit-dikit bareng kerjaan lainnya. Jadi, akhirnya semuanya terlaksana.


4. Impulsif dan ego


Impulsif ini bisa dibilang penyakit yang somehow merugikan kerana tindakan yang dilakukan gak pake mikir dulu konsekuensinya apa. Impulsif ini juga dikaitkan dengan penyakit mental. Tapi, aku rasa impulsif aku tuh gak sampai ke tahap membahayakan. Eh, bahaya sih, untuk dompet. ^^

Impulsif aku tuh lebih ke shopping dan menghambur-hamburkan uang gak jelas. Liat baju lucu, beli.. Liat sepatu keren, beli. Jaket kece, beli juga. Beli aja semuanya sampe akhir bulan harus makan mie instant 1 bungkus untuk 2 kali makan. Aku cenderung gak mikir dulu, ini barang aku udah punya belum, aku butuh gak? Langsung main beli aja.

Kaitannya dengan ego apa? Impulsif aku bisa dibilang karena ego sih. Aku ngecek-ngecek barang yang mau dibeli kalau ada orang-orang di sekitar aku juga pengen belanja. So, aku pengen juga gitu. Ego ini lebih ke "aku juga mau dong punya yang kayak kamu biar kita sama. Kan keren tuh kalau couple-an sama teman". Dan ternyata itu gak sehat lho bro sis.

Aku baru sadar banget itu tuh gak sehat sebenarnya bagi mental aku dan juga keuangan aku. Okay, pas awal punya barangnya aku happy, tapi ujung-ujungnya kayak ada semacam penyesalan kenapa aku gak mikir dulu pas beli. Apalagi pas ujung-ujungnya malah berimbas ke biaya makan. Ah, udah gak mau lagi kayak gitu.

Aku mulai pelan-pelan cope up with impulsif dan ego aku ini. Aku suka baca-baca artikel prevention nya. Aku juga mulai ngobrol lagi sama diri sendiri 'Lho, kamu kan udah ada baju warna biru, jadi gak usah beli lagi. Kan masih bagus. Bulan depan lah kalau ada duit lebih ya, zeyenk", gitu kadang aku ngepuk-puk diri sendiri. ^^ PERJUANGAN!!!

Hingga pada akhirnya, saat aku bisa pegang kendali 2 monster besar ini, aku berhasil gak beli lipstik sampai lipstiknya bener-bener habis. Well, bukannya pelit ya tsay.. Cuma ya, perlu kesadaran mengelola pengeluaran uang aja aku tuh.

Oke, sekian curhat dari aku yang ingin jadi lebih baik ini. Kalau kalian, hal apa yang kalian tinggalkan di tahun 2019? Sharing bareng yuk!

41 Responses to "4 Hal yang Aku Tinggalkan di Tahun 2019"

  1. Buat dua hal pertama kayaknya sih udah bisa. Yang saya belum bisa ya gitu, membuang pikiran2 bising di otak. Dan ini kayaknya butuh effort lebih.

    ReplyDelete
  2. Iya nih. Yang kepala bising agak berat untuk ngilanginnya. coba diarahkan dan disuruh diam, kadang-kadang masih aja bising. Kayak suruh diem siswa di kelas. wkwkwkwk

    ReplyDelete
  3. Semangat mbak, semoga di tahun 2020 rangking blognya terus naik dan segala apa yang dicita-citakan tercapai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Aku serius banget sama blog ini sampe nangis pas stres banget mikirin performance nya. hahahahaha. Kakak juga ya. Sukses terus.

      Delete
    2. Amiiin. Terima kasih atas doanya...

      Delete
  4. Semangat mba jasmi! Saya alhamdulillah sudah menerapkan ilmu bodo amat dari 10 taun lalu dan lebih berfokus kepada kebahagiaan diri saya sendiri, toh yang bertanggung jawab akan kehidupan saya bukan mereka, mengontrol emosi memang sangat penting.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga bisa banget bodo amat mbak.. Cuma kadang-kadang pas pondasi goyah, jadi gak bodo amat lagi. hahahah

      Delete
  5. Wah sama nih, kurang fokus. Kayak tadi rencananya mau unboxing paket hari ini. Malah buka-buka hp sampai komen artikel ini. Wah, temanya kena banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu mbak. Kadang hilang fokus. Aku lebih ke thinkingnya sih yang random. kalau kerjaan jarang random. Eh, kayaknya random juga eh, hahahaha

      Delete
  6. Tossss Mba Jasmi. Nomer 4 kece tuuuuh. Aku bangeeet, lagi nyoba nahan godaan impulsive buying alias shopping suka-suka. Kekeke. Kalo nomer 1-3 karena aku emang orangnya super cuek dan gak mau di-framing sama orang, jadinya aku masa bodoh sama semua yang 'sok tahu' urusin hidup aku. Hehehe. Tapi aku orangnya lebih memilih gak melayani sih. Aku biarkan saja mereka mereka itu dengan pikirannya sendiri, sementara aku terus maju dengan diriku sendiri. Semangat yaaa mba. Semoga resolusinya tahun ini tercapai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ajarin aku dong.. AKu masih harus berguru banyak untuk basmi nomor 1 2 3 sampai ke akar-akarnya. ^^ Mbak Muthe juga semoga tercapai semua apa yang diinginkan ya.

      Delete
  7. Wahahaha, mba Jasmi baca ini tuh berasa kayak ngaca pas zaman aku masih muda.
    Uhuk.. haha

    Dulu tuh aku suka belanja gak pake pikir. Setelah menikah aku kok ya rasa sayang banget kalo mau beli apa2. Jadinya lebih mikir ke anak sih.. hihi.
    Kalo dulu punya sepatu bisa sampe berjenis jenis lain warna kalo sekarang cukup 1 maksimal 2. Itu pun kadang hadiah wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak. Ujung-ujungnya malah dikasih ke sodara barang-barangnya itu. Aduh, gak lagi-lagi lah tergoda beli barang yang gak perlu.

      Delete
  8. Kepala yang bising ya mbak? ngeri juga ya mikir kebanyakan gitu. Eh apa saya juga gitu ya, tapi akhirnya tidak ada satupun yang dikerjakan 😬

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh mbak. Jangan ikut-ikutan saya dong randomnya. Ikut yang baik-baik aja. Eh tapi emang ada yang baiknya? huhuhu

      Delete
  9. Bener Jas, aku setujudg quote dr mb Monica. Mending hapus mereka2 yang bikin sebel, bikin berat hidup tanpa kontribusi di hidup kita,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Racun itu lah yang bikin kita gak happy.

      Delete
    2. Iyaaa.... racun2 dalam kehidupan musti dihilangkan.. dan perbanyak berteman ke yang saling membantu dan membangun.

      Delete
  10. Saya akan meninggalkan perbuatan yang sekiranya tidak baik yang bisa menghambat kemajuan diri. Dan, ditahun baru ini saya hanya fokus pada keluarga agar mereka semua hidup berkecukupan, bisa menjadi kepribadian yang selalu bertanggung jawab sama keluarga kecilku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu dia mas. Mending fokus sama pengembangan dan kebahagiaan diri sendiri. Toh kita juga gak ngurusin hidup orang lain kan yak.

      Delete
  11. rasanya nyaman banget, delete org2 yg beracun. saya melakukan itu 10 tahun lalu dan berasa ringan bener jalanin hidup. berasa lebih optimis dan happy

    ReplyDelete
    Replies
    1. that's it! justru makin banyak energi positif yang bikin kita optimis untuk melangkah.

      Delete
  12. Aku malah masih banyak hutang di tahun 2019 yang masih belum tercapai :(

    banyak sekali rencana yang belum terealisasikan, semoga di tahun 2020 ini bisa tercapai.

    Salah satunya bisa menulis curhatan yang terangkai apik seperti cerita mbak jasmi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo belajar lagi dan lagi. Aku juga masih harus terus berlatih untuk jadi lebih baik lagi. Jangan menyerah!! Ada teman-teman yang selalu mendukung.

      Delete
  13. Perubahan tak selalu mudah, tapi akan mudah kalau ada temannya. Teman yang punya misi sama atau hampir sama.
    Semangat memperbaiki diri dan mendetoks racun yang telah masuk.

    Baper dengan omongan orang = menyakiti diri sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak cuma badan yang harus didetoks ya mbak. Hidup juga harus didetoks dari pengaruh-pengaruh jahat. Semoga kita selalu dikelilingi orang-orang positif yang mendukung dengan tulus ya mbak.

      Delete
  14. Oooo....impulsif itu yang sering saya alami juga kak... baru tau namanya itu.. tapi sejauh ini belum nyesel2 banget kok memiliki sesuatu atas dasar impulsif... karena barangnya selalu terpakai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu masih bisa ditolerir ya kak.. Kalo barangnya gak kepake dan justru numpuk di lemari (katakanlah baju) kan sayang duit nya... Mending ditabung buat bleaching muka. Hahahahah

      Delete
  15. Semoga 4 hal itu menjauh pergi dan tak ngintip-ngintip untuk balik lagi ditahun 2020 ini ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah2an dia gak nyusul aku ke 2020 ini. Udah cukup capek berhubungan sama mereka tuh

      Delete
  16. Memikirkan komentar orang tentang kita memang bikin kurang produktif. Jadi kita ambil sisi baiknya saja. Komentar baik dijadikan semangat dan komentar buruk sebagai masukan berharga. Pokoknya kita tetap berpositif thiking dengan orang lain supaya hati tetap damai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Waktunya habis mikirin omongan orang. Kerjaan sendiri malah gak beres. Kan gak sehat tuh.

      Delete
  17. Selain manajemen waktu, yang juga susah diterapkan ya manajemen uang memang. Semakin banyak penghasilan pasti keinginan untuk beli ini beli itu juga makin banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makin banyak uang makin impulsif. Hahahahaha .

      Delete
  18. Tahun baru jadi harus membenahi dan membuang hal-hal negatif ya, Mbak. Saya pun seakan ingin bilang pada diri sendiri "sudah leha-lehanya, tahun kamu harus lebih baik lagi"

    Tapi gimanapun untuk jadi lebih baik harus banyak usaha ya, baik membenahi faktor internal maupun eksternalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mas. Aku pun udahan leha2 nya. Saatnya memperbaiki diri. Self-motivation itu faktor utama. Kalo udah kuat niatannya, motivasi eksternal hanya pelengkap aja.

      Delete
  19. Selamat tahun baru 2020 :D

    Semoga ditahun ini, apa yang dicitakan tercapai. Semoga betul-betul bisa ignore omongan orang yang nggak penting hehehe dan semoga semakin strong dalam menghadapi situasi apapun termasuk keimpulsifan diri sendiri :>

    Semangat terus, pasti bisa! :D

    ReplyDelete
  20. Intinya untuk di tahun 2020 ini khususnya diawal tahun. Harus bisa memberi energi positif, karena di tahun 2019 jadikan itu pembelajaran agar lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  21. point 1 dan 2 gw banget deh kak. Apalagi racun, buang aja!!! mempengaruhi pola pikir, gw bersyukur banget salah satu teman menghilang. Banyak org pikir dia pintar dan baik. Nooo, cuma ngomong doang. Nyatanya dia terombang ambing sama apa yang dibacanya

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel